cerita seks

Cerita Seks Terpanas Perawan Anak Langgananku


ceritaseks69 - Perawan Anak Langgananku - Perkenalkan namaku Wira, umurku 32 tahun dan aku bekerja disalah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa perbaikan parabola. Aku sudah bekerja di perusahaan itu kurang lebih 2 tahun dan selama itu juga aku sudah mendapatkan banyak pelanggan. Mungkin karena aku ramah dan servisku yang baik maka para pelangganku selalu saja menghubungiku tiap kali parabolanya rusak.



Kali ini aku akan menceritakan pengalaman pribadiku dengan anak pelangganku yang bernama Anggita. Gadis muda yang berumur sekitar 15 tahun. Anggita adalah anak dari pelangganku yang bernama bu Erna. Gadis kecil yang manis, cantik dan juga sangat ganas dalam berhubungan seks. Langsung saja keceritaku.

Waktu itu kalau tidak salah hari sabtu aku mendapatkan sebuah telpon dari Ibu Erna pelangganku. Bu Erna menyuruhku segera ke rumahnya untuk memperbaiki parabolanya yang rusak karena hujan deras tadi malam. Karena aku juga sudah dekat dengan bu Erna, maka aku segera menuju rumahnya.

Tak berapa lama kemudian, akhirnya aku sampai dirumah bu Erna dan disana aku disambut oleh seorang anaknya yang bernama Anggita. Karena bu Erna sudah menjadi langgananku, maka aku langsung disuruh masuk kedalam rumahnya.

Saat itu kulihat suasana rumah bu Erna sangat sepi sekali hanya ada Anggita yang dirumah dan masih menggunakan seragam sekolahnya. Dan kulihat Anggita juga baru saja pulangdari sekolahnya.





“Ibumu pulang jam berapa Gita..?” tanyaku.

“Biasanya sih sore sekitar jam setengah 6’an gitu..” jawabnya.

“Owh…tadi om disuruh kesini buat betulin parabola di rumahmu. Apa masih gak keluar gambarnya..?” tanyaku.

“Iya om.. sampai Anggita gak bisa nonton film kesukaan Anggita, rugi deh jadinya..” jawab Anggita.

“Sebentar yah, om betulin dulu parabolanya..” balasku.

Kemudian aku segera naik keatas genteng dan singkat kata kurang lebih 15 menit saja aku sudha bisa membenarkan posisi parabola yang tergeser karena tertiup angin kencang tadi malam.

Naaah, awal pengalamanku bermula saat aku mau turun dari genteng, lalu minta tolong pada Anggita untuk memegangi tangganya. Ketika itu Anggita sudah ganti baju sergamnya dengan kaos oblong ala Bali. Kedua tangan Anggita terangkat ke atas memegangi tangga, akibatnya kedua lengan kaosnya merosot kebawah dan ujung kerahnya yang kedodoran membuka sangat lebar.

Pembaca pasti ingin ikut melihat karena dari atas pemandangannya sangat jelas terlihat. Ketiak Anggita ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, kemudian dari ujung kerahnya kulihat gumpalan toketnya yang kencang dan putih mulus yang membuat batang penisku seketika berdenyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang sangat membuatku terangsang.

Anggita gak pakai bra, mungkin karena kepanasan, toketnya berukuran lumayan namun jelas terlihat sangat kencang, namanya juga toket remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan nafsuku, perlahan kuturuni anak tangga sambil sesekali mataku melirik kebawah.

Anggita nampak gak menyadari kalau aku sedang menikmati keindahan buah dadanya. Namun yaaaah.. sebaiknya begitu. Gimana jadinya kalau Anggita tahu kemudian tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti aku jatuh dan patah tulang. Yang pasti setelah sampai kebawah, pikiranku jadi kurang konsentrasi pada tugas.



Aku baru ingat kalau saat itu keadaan rumah ini hanya ada aku dan Anggita sigadis remaja yang cantik. Anggita memang cantik dan nampak sudah dewasa dengan mengenakan baju santai ketimbang seragam sekolah.

Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah kemudian turun kebetis kemudian naik lagi ke bagian dada. Kulihat Anggita pantas kukasih nilai 90. Dna melihat aku memandangi tubuh molek Anggita, kemudian Anggita berkata,

“Om kok memandangku begitu sih.. aku jadi malu donk..” ujarnya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku.

“Wahh.. sorry deh Gita.. habis selama ini om baru menyadari kecantikanmu” balasku sekenanya sambil tanganku menepuk pipinya.

Seketika wajah Anggita langsung memerah, barangkali tersinggung, memang dulu-dulunya nggak cakep seperti sekarang.

“Idiiiiihh.. om kok jadi genit deh..” balas Anggita sambil tersenyum manis dan Duiiiilah senyumnya bikin hati gemes, terlebih merasa dapat angin harapan.

Kemudian setelah itu kucoba menyalakan TV dan langsung muncul SCTV. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan dibelakang TV.

“Sekarang dicoba Gita.. bantuin om pegangin kabel merah ini..” ujarku.

Dan karena posisi TV sedikit rendah maka Anggita terpaksa jongkok didepanku sambil memegang kabel warna merah yang kusuruh tadi. Kaos terusan Anggita yang pendek gak cukup untuk menutupi seluruh kakinya, akibatnya sudah bisa diduga. Paha Anggita yang sangat mulus dan putih bersih berkilauan didepanku, bahkan sempat terlihat warna CD Anggita.

Seketika itu juga jantungku seperti berhenti berdetak kemudian berdetak dengan cepatnya. Dan semkain bertambah cepat lagi saat tangan Anggita diam saja saat kupegang untuk mengambil kabel merah kembali.

Punggung tangannya kubelai, Anggita diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisiku kala tangannya kuremas Anggita telah mengeluarkan keringat dingin. Kemudian perlahan kudongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya.

“Anggita..kamu cantik sekali.. Boleh om menciummu?” ujarku kubuat sesendu mungkin untuk menarik simpati Anggita.

Anggita hanya diam saja namun perlahan matanya terpejam. Bagiku sikap Anggita itu adalah jawaban. Perlahan kukecup keningnya dan kemudian kedua pipinya. Dan setengah ragu kutempelkan bibirku kebibirnya yang membisu. Tanpa kuduga Anggita membuka sedikit bibirnya. Itu-pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda.

Segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Anggita menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Anggita mempertemukan lidahnya dengan lidahku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Anggita-pun mengikuti caraku.

Perlahan tubuh Anggita kurebahkan kelantai. Mata Anggita menatapku sayu. Dan kubalas dengan kecupan lembut dikeningnya lagi. Kemudian kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka. Tanganku yang sejak tadi membelai rambutnya, rasanya kurang puas, sekarang saat yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya. Karena Anggita memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit.



Sengaja aku bergaya softly, karena sadar yang kuhadapi adalah gadis muda berumur 16 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, sabar menunggu hingga Anggita dimabuk kepayang. Dan kelihatannya Anggita bisa memahami sikapku, saat aku kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Anggita sedikit mengangkat pinggulnya. Wah, sungguh seorang gadis remaja yang penuh pengertian.

“Aaaahh.. Aaaaahh..”

Hanya suara desahan yang keluar dari mulutnya sata mulutku mulai mencium batang lehernya. Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung CD-nya kemudian bergeser sedikit lagi ketengah. Kurasakan CD Anggita sudah lembab.

Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak nafsuku lagi, kuremasi gundukan itu dan Anggita memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya.

Suasana yang panas menambah panas tubuhku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celanaku hingga sekarang tinggal tersisa CD-ku saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan CD Anggita. Wooowww…baru kali ini kulihat sebuah gundukan seindah milik Anggita.


Luar biasa.. padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan saat kutekuk lutut Anggita kemudian kubuka kakinya, tampak bibir vaginanya masih bersih dan berwarna kemerehan. Anggita gak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil membuatnya melayang. Anggita hanya bisa terus medesah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut.

Gak sabar lagi, tak kubiarkan sebuah keindahan itu terbuka sia-sia begitu saja. Segera kuarahkan wajahku disela-sela paha Anggita dan menenggelamkannya dipangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Anggita.



Bau semerbak kas kemaluan seorang gadis gak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita sama saja. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir vaginanya. Setiap lendir kujilati kemudian kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Anggita sampai bersih.

Lidahku bergerak lincah dan keras ditengah-tengah bibir vaginanya. Dan saat lidahku mengayun dari bawah keatas hingga tepat jatuh di iutilnya, Kujepit klitorisnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Anggita gak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannya memberontak keatas kebawah dan bergeser kekiri kekanan.

Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat. Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek klitorisnya namun menyebar keseantero tubuhnya. Anggita udah gak mengenal lagi siapa dirinya yang membuatku jadi semakin ganas dan melupakan Anggita itu siapa.

Batang penisku sudah sangat besar bergemuruh seluruh isinya. demi melihat Anggita tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terakhirku, yaitu celana dalamku. Tanpa basa-basi segera kuarahkan ujung penisku kepangkal selangkangan Anggita. Sekilas kulihat Anggita mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku.

Batang penisku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila berdiri tegak. Anggita kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya.

“Ampun om.. jangan oomm.. ampun omm.jangann..” Tangan Anggita mencoba menghalau kedatangan penisku yang siap mengarah keVaginanya.

Merasa mendapat perlawanan, sejenak aku jadi agak bingung, namun untunglah aku mErnaliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera aku mErnanta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai acak-acakan.

“Anggita takut om. Nanti kalau mama tahu pasti Anggita dimarahin. Dan lagi Anggita gak pernah kayak ginian. Anggita juga jadi malu..” ujarnya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya.

“Kamu gak usah kawatir Gita, om gak bermaksud jahat terhadapmu, om sayang sekali sama Anggita Dan lagi Anggita jangan takut sama om. Semua orang cepat atau lambat pasti akan merasakan kenikmatan hubungan intim. Jangan takut berhubungan intim karena berhubungan intim itu enak sekali” balasku menenangkan serayu merayu Anggita

“Iya, tapi Anggita gak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Anggita jadi begini..?” Air mata Anggita mulai mengalir dari pojok matanya. Dan melihat itu aku segera memeluknya agar bisa menenangkannya.

Cukup lama aku memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, sampai akhirnya Anggita bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi.

“Coba sekarang Anggita belajar pegang burung om, bagus kan” ujarku smabil tanganku meraih tangannya kemudian membimbingnya memegang kebatang penisku.

Tangannya kaku sekali namun setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada batang kontolku, otot tangannya mulai mengendor. Kemudian tangannya mulai menggenggam batang penisku. Perlahan tangannya kutuntun maju-mundur.

Kelembutan tangannya membuat batang penisku mulai bergerak membesar, sampai akhirnya tangan Anggita gak cukup lagi menggenggamnya. Dan Anggita kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri.

“Aaaahh.. enak sekali Gita.. aahh.. kamu memang anak yang pintar.. Aaaaahh..” mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku.

Sementara itu tangan kiriku mulai meremas buah dadanya yang masih tertutup kaos yang tipis. Belum pernah aku meremas buah dada sekeras milik Anggita. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya kemudian dengan cepat kulumat bibirnya.

Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya lidah Anggita-pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang terpejam, bisa kurasakan kenikmatan tengah membakar tubuhnya.

Segera aku meminta Anggita untuk melepas kaosnya agar lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Anggita segera berdiri kemudian menarik kaosnya keatas hingga melampaui kepalanya. Batang penisku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Anggita tanpa mengenakan sehelai benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih membakar semangatku. Benar-benar sempurna. Kedua buah dadanya menggelembung indah dengan puting yang mengacung keatas.

“Gitaaa.. Tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!” Pujiku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu

“Oomm, boleh gak Anggita mencium burung om?” Anggita tersipu-sipu menunjuk keselangkanganku. Rasanya gak etis kalau aku menolaknya. Kemudian sambil duduk disofa aku menelentangkan kedua kakiku.

“Tentu saja boleh kalau Anggita menyukainya..” Kubikin semanis mungkin senyumku

Anggita-pun mengambil posisi dengan berjongkok kemudian kepalanya mendekati selangkanganku. Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala batang penisku. Perlahan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Anggita kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusuri sekeliling batang penisku. Sensasi yang snagat luar biasa membuatku gemas meremasi kedua toketnya.

“Aaduuhh.. enak sekali Gita.. Teruss.. Gita..Coba kesebelah sini,” kataku sambil menunjuk kebuah zakarku. Dan Anggita segera paham kemudian mejulurkan lidahnya kebuah zakarku. Anggita menggerakkan lidahnya kekanan kekiri atas-bawah.

“Oomm…kekamar Anggita aja yuk biar gak panas..” Sahutnya mengajakku kekamarnya yang ber-AC.

“Terserah Anggita aja dehh..” balasku

Begitu Anggita merebahkan tubuhnya keranjnag, aku gak mau menunggu lama lagi untuk merasakan tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya gak ada yang kusia-siakan. Terutama dibagian toketnya yang aduhai. Tanganku seakan gak pernah lepas dari liang vaginanya. Setiap tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Anggita menggelinjang entah mengapa. Sementara itu batang penisku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya.

Akhirnya kutuntun burungku menuju liang vagina Anggita. Lubang vagina Anggita yang telah kebanjiran sangat berguna sekali, bibir vaginanya yang kencang memudahkan batang penisku menyelinap kedalam. Sedikit-sedikit kudorong maju. Dan setiap dorongan membuat Anggita meremas kain sprei.

Kalau Anggita merasa seperti kesakitan aku mundur sedikit, kemudian maju lagi, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur, maju, dan “bleeeeeess..” Tak kusangka lubang vagina Anggita mampu menerima penisku yang besar ini. Begitu amblas seluruh batang penisku, Anggita menjerit kesakitan. Aku kurang menghiraukan jeritannya.

Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Namun aku tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Lubang vagina Anggita sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan.

Terasa beberapa kali Anggita mengejangkan lubang vaginanya yang bagiku malah memabukkan karena liang vaginanya jadi semakin keras menjepit batang penisku. Erangan, rintihan, dan jeritan Anggita terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya Anggita-pun menikmati setiap gerakan batang penisku.

Rintihannya mengeras setiap kali batang penisku melaju cepat kedasar liang senggamanya. Dan mengerang lirih saat kutarik batang penisku. Hingga akhirnya aku sudah gak bisa bertahan lebih lama lagi.

Saat batang penisku melaju dengan kecepatan tinggi, meledaklah sudha spermaku. Batang penisku menghujam keras dan kandas didasar jurang memek Anggita. Anggita-pun melengking panjang sambil mendekap kencang tubuhku, kemudian tubuhnya bergetar hebat. Sebuah kenikmatan yang sempurna.


Demikian cerita sex ini, selalu ikuti cerita-cerita sex yang lainya ya guest, tentunya bakal makin seru, makin Hot dan yang pasti bikin kamu horny guest.


Hanya Di :

Cerita Dewasa Sex SMA || Cerita Dewasa Sex SPG || Cerita Dewasa Sex Mahasiswa || Cerita Dewasa Sex Mahasiswi || Cerita Dewasa Sex Model || Cerita Dewasa Sex Pembantu || Cerita Dewasa Sex Perawan || Cerita Dewasa Sex Salon++ || Cerita Dewasa Sex Suster || Cerita Dewasa Sex Tante Girang || Cerita Dewasa Sex Threesome || Cerita Dewasa Sex Gangbang || Cerita Dewasa Sex ABG || Cerita Dewasa Sex Lesbi || Cerita Dewasa Sex Gay || Foto Hot Mahasiswi Terbaru || Foto Hot Model Terbaru || Foto Hot Tante Terbaru || Cerita Sex Terbaru 2016 || Cerita Dewasa Terbaru 2016 || Cerita Mesum terbaru 2016 || Dan Lain-lain.

0 komentar:

cerita seks

Cerita Seks Bercinta Dengan Istri BosKu

Ceritaseks69 - Namaku Eko ( kali ini nama asli). Aku tinggal di kota Mataram Lombok. Ceritaku ini terjadi pada tahun 2007 silam. Pada waktu itu aku kuliah di sebuah di salah satu Perguruan Tingi Swasta di Lombok. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang sudah terkenal di kota itu. Waktu itu aku bekerja sebagai kru produksi. Pekerjaannya sangat sederhana yaitu merekam lagu, membuat iklan radio, dan mempersiapkan segala hal yang sifatnya off-air. Pemilik radio itu namanya Bapak Wirata! Dia mempunyai istri yang sangat cantik. Aku biasa menyebutnya dengan Ibu Diah.


Ibu Diah tingginya kira-kira 175cm, bahkan lebih tinggi dari suaminya. Ibu Diah bekerja di sebuah perusahaan swasta di Lombok. Sejak pertama kali bekerja di radio itu, aku udah jatuh cinta ama Ibu Diah untuk pertama kalinya. Ibu Diah ini sangat cantik, mungkin sensual. Tinggi kira-kira 170cm, Payudaranya tidak besar, sama sekali tidak besar. Tapi justru payudaranya yang kecil itu yang membuatku sangat penasaran. Aku selalu terobsesi dengan payudara yang kecil!hihihii..

Suatu ketika ibu diah menyuruh aku ke rumahnya untuk memperbaiki komputernya yang rusak.Sesampai di dalam rumah aku tidak menemukan siapa pun. Dimana Mbak Diah, pikirku. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Kosong juga. Wah, di mana nih. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap ketemu dengan sang idola. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Sampai aku dikejuntukan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggangku dari belakang. “malam ini temenin Mbak ya”, terdengar bisikan di telingaku.


Tanpa basa-basi aku segera memutar tubuhku dan di depanku telah berdiri Mbak Diah dengan paras yang sangat cantik. Wajah Mbak Diah persis di depanku. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Diah. Terasa hangat di wajahku ketika Mbak Diah menghembuskan nafas. Aku benar-benar dibuat terpesona. Mbak Diah sudah berganti pakaian dengan kimono warna pink. Matanya sayu menatapku. Entah keberanian dari mana yang mendorong wajahku sehingga bibirku mengecup lembut bibir Mbak Diah. Tidak ada perlawanan dari Mbak Diah. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Diah beberapa lama. Kurasakan tangan Mbak Diah membuka lembut kemejaku. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Diah. Kuusap perlahan punggungnya sambil terus memainkan bibirku. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Diah. Bibir Mbak Diah lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu.

Lidahku semakin liar bermain. Kuciumi lagi bibirnya, hidungnya, matanya, keningnya, pipinya, dagunya. Dan semuanya terasa lembut. Napas Mbak Diah semakin memburu. Tanganku bergerak ke bawah mencari2 tali kimono. Setelah ketemu, kubuka talinya pelan. Ketika berhasil kulepaskan, kimono tersebut merosot jatuh ke lantai, Kumundurkan tubuhku dan nampaklah pemandangan yang sangat indah yang sering kubayangkan selama ini. Mbak sudah tidak memakai bra dan cd. Payudara yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku kini terpampang jelas di hadapanku. Tampak puting yang kecil berwarna coklat dan merah muda pada ujungnya. Bener-bener sesuai ama selera dan harapaku. Payudaranya kecil, mungkin ukuran 34 a. Tapi aku suka banget ama yang segitu.

“Eko Kenapa berhenti?”, ucapnya lirih seraya matanya yang sayu memandangku. Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Diah dan berlutut di depannya. Aku membungkuk dan mencium lembut jari kaki sebelah kirinya sementara tangan kananku membelai lembut betis kanan Mbak Diah. Yang kudengar saat itu hanya lenguhan nikmat dari Mbak Diah. Kudongakkan kepalaku menatap Mbak Diah. Mbak Diah hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Kuarahkan perhatianku lagi ke bawah. Kuciumi lagi kaki kiri dan kanan berganti sementara tanganku mengusap lembut betisnya. Mbak Diah terus mendesis sampai suatu saat Mbak Diah hampir terduduk karena menahan kenikmatan dari ciuman dan belaian di betisnya.


Aku bangkit dan kusandarkan tubuh Mbak Diah di tembok dapur dengan posisi tubuh berdiri. Aku berlutut lagi dan kini yang menjadi sasaranku adalah pahanya. Kuciumi pelan paha kanan Mbak Diah. Tangan kanan Mbak Diah mencengkeram tembok. Kuciumi terus mulai dr atas lutut sampai mendekati pangkal pahanya. Tercium aroma yang membuatku semakin mabuk asmara ketika menciumi sekitar pangkal paha. Mbak Diah berusaha mengatupkan pahanya tapi aku menahannya dengan kedua tangan supaya tetap terbuka. Ciumanku pindah ke paha yang kiri sementara tangan kananku bergerak ke atas ke wilayah perut dan mengusap pelan dengan ujung jariku. Mbak Diah semakin mendesis tidak karuan.

“Oh… Eko… Shh… sh…”
Ciumanku terus naik mendekati pangkal pahanya. Dengan gerakan sedikit menyentak kurenggangkan lagi paha Mbak Diah.
Oughhh… Mbak Diah melenguh panjang menerima perlakuanku yang tiba2. Kupandangi sejenak gundukan di depanku. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. Sambil tetap memegangi kedua lutut Mbak Diah, kujulurkan hidungku menyapu jembutnya. Tubuh Mbak Diah bergetar menerima sapuan hidungku. Tampak samar belahan daging dan kucoba menjilat pelan membelah hutan jembut yang lebat itu.



“Ouhh… Eko…”, tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. Lidahku terus menjilat mencari-cari daging nikmat. Kurasakan ada cairan menempel dilidahku. Gurih terasa di muluntuku. Muluntuku pun mulai menghisap gundukan indah Mbak Diah.
“oh… Sshh… Sshh… Eko… enak banget kooooo…”, desah Mbak Diah. Desahan itu membuatku semakin ganas. Kontolku sudah tegang dari tadi tapi aku ingin bermain dengan Mbak Diah. Hisapanku di memek Mbak Diah semakin liar. Sementara Mbak Diah meliuk-liuk menerima serangan di memeknya.
“Eko.. Kamu kok pinter banget sih…”, kata Mbak Diah manja. Aku hanya tersenyum aja mendengarnya.


Perlahan ciumanku naik ke perut Mbak Diah. Tidak lama di situ aku berniat untuk langsung menyerbu payudara Mbak Diah. Aku segera bangkit. Kupandangi sejenak payudara Mbak Diah yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. Lalu kupandangi wajah Mbak Diah, titik2 keringat bermunculan di keningnya. Kumajukan wajahku ke arah payudara Mbak Diah, tanpa mengalihkan pandangan dari matanya. Sampai di payudara yang sebelah kiri kukecup pelan putingnya. Mbak Diah mendongakkan wajahnya menerima sensasi kecil di putingnya. Kukulum puting payudara kiri Mbak Diah. Terasa hangat di dalam muluntuku. Mbak mulai mendesis lagi.

“terusin kooooooo… terusin”,
Aku semakin gencar mengulum puting payudara Mbak Diah. Sesekali kusedot dengan keras.
“Ahh.!” Mbak Diah berteriak kecil.

Aku melirik ke payudara yang sebelah kanan. Segera kuarahkan bibirku ke puting kanan. Perlakuanku beda kali ini. Aku menyerbu payudara kanan Mbak Diah dengan sangat liar sementara tangan kananku memegang dengan kuat payudara yang kiri. Menerima perlakuanku yang berubah drastis, Mbak Diah berteriak keras dengan menggoyangkan kepalanya kiri kanan. Keliaranku itu bertahan selama 10 menitan sementara kontolku sengaja kugesek-gesekkan ke memek Mbak Diah.

Mbak Diah terus menerus meracau. Tidak jelas apa yang diucapkan. Aku sudah tidak tahan lagi. Segera kubalik tubuh Mbak Diah kupaksa untuk menungging. Mbak Diah menahan tubuhnya dengan tangan di tembok. Kuarahkan kontolku ke memek Mbak Diah. Pelan aku coba menerobos liang memek Mbak Diah. Agak susah juga mencari posisi lubang vagini Mbak Diah. Setelah beberapa saat akhirnya kontolku sudah berada dalam jepitan memek Mbak Diah.
“Mbak…” aku menahan sebentar kontolku. Mbak Diah melenguh panjang.
“ouhh…hss…koooooooooo…”


aku segera menarik kontolku pelan sampai tersisa kepalanya dalam memeknya. Lalu kutusuk lagi dengan gerakan cepat. Mbak Diah lagi-lagi melenguh panjang. Kulakukan berulang kali sampai 15 menit. Tanpa berganti posisi aku percepat gerakanku. Tanganku kubiarkan bebas menggantung. Kontolku terus kupacu di dalam memek Mbak Diah. Sampai suatu ketika tubuh Mbak Diah mengejang hebat dan Mbak Diah melolong hebat merasakan orgasme pertamanya. Tubuh Mbak Diah bergetar beberapa saat. Aku harus menahan tubuhnya karena seperti mau terjatuh ke lantai. Sebenarnya aku juga sudah hampir sampai tapi sekuat tenaga aku bertahan. Aku tidak mau permainan ini cepat selesai.
Kudiamkan sebentar kontolku di dalam memek Mbak Diah dan membiarkan Mbak Diah mengatur napasnya, menikmati orgasmenya.

Beberapa saat kemudian, aku melanjuntukan lagi serbuanku ke memek Mbak Diah.
“Oh…uh…oh…uh”, suara Mbak Diah keenakan.
“Ko, enak banget”, tambahnya lagi. Tangan kirinya meraih tangan kiriku dan meletakkannya di payudaranya. Sensasi di dua wilayah sensitifnya membuatnya buk diah ga semakin ga karuan. Sodokanku di memeknya kupercepat sementara tanganku semakin kuat di payudaranya. Akhirnya, aku mengeluarkan senjataku yang terakhir. Tangan kananku yang bebas kuarahkan ke lubang anusnya. Kuludahi anusnya dan kuusap keras bagian anus Mbak Diah. Sekarang 3 bagian sensitifnya habis aku garap. Mbak Diah semakin menikmati permainanku. Kepalanya terayun-ayun menambah keseksiannya. Badannya terus terguncang-guncang menerima sodokan kontolku. Aku pun mulai kacau merasakan sensasi di kontolku.

“Mbak, enak banget Mbak”, kataku?
“heh…uh… terusin ko. Ahh…”
Jariku mencoba menerobos ke liang anus Mbak Diah. Aku tidak berani terlalu dalam. Takut menyakiti Mbak Diah. Kontolku terus menghunjam di memek Mbak Diah. Sampai akhirnya aku merasakan gelombang sangat kuat yang siap menerobos keluar dari kontolku.
“Mbak… Aku dah mo keluar Mbak… Mphhh…”
Iiiiyyaaaa ko… mbak juga… aaayooo koooo…”
Kupercepat gerakanku. Kontolku terus menerobos memek sampai akau tidak kuat lagi menahan gejolakku…
Croot…croot…croot… Ah… Ah… Ah…
Gerakan kontolku kuhentikan di dalam memek Mbak Diah. Dan tubuh Mbak Diah pun bergetar sangat hebat. Tangan kirinya mencengkeram tangan kiriku yang bermain di payudaranya dengan sangat kuat.
“AHHH…ekooooo”, teriaknya memenuhi ruangan dapur.
Kujatuhkan kepalaku ke punggung Mbak Diah. Kutarik kontolku pelan-pelan, dan kuhunjamkan lagi ke dalam memek Mbak Diah tapi dengan gerakan yang sangat pelan. kedua tanganku memegang lembut payudara Mbak Diah. Nikmat banget. Sumpah nikmat banget. Kuciumi pelan punggung Mbak Diah sementara Mbak Diah ga tahan menerima orgasmenya.

Setelah beberapa saat, aku tetap membiarkan kontolku bertahan di dalam memek Mbak Diah. Lalu, pelan-pelan kutarik kontolku. Mbak Diah melenguh merasakan gesekan pelan di memeknya.
“Mbak… Nikmat banget. Mbak cantik sekali”, bisikku pelan.
“Eko… Kamu hebat. Hhh…mbak nggak ngira kamu mau ama mbak”, katanya sambil membalikkan tubuhnya dan kini duduk terkulai lemas di lantai.
Aku tersenyum aja mendengarnya.
“Kapan-kapan, kalo mbak pengen, Eko mau ya nemenin Mbak lagi?”
“Mmmmm… Siap Mbak! Apapun buat Mbak!”, jawabku sambil tersenyum manis.

this is the fisrt my sex story with Tante Diah, istri bosku. Setelah hari itu, selama empat hari aku nemenin Mbak Diah tiap malam. Ga jadi nyesel deh, Pak Wir banyak ijinnya. Ijin terus aja Pak wirrrrr… Setiap bosku keluar kota aku selalu menemani Mbak Diah dan memberinya kepuasan. Demikian juga Mbak Diah memberiku pengalaman, dan sensasi sex luar biasa kepadaku! @ pak wirata sorry ya bos saya sudah mengentot istri sexy anda!hihihihii……… END


Demikian cerita sex ini, selalu ikuti cerita-cerita sex yang lainya ya guest, tentunya bakal makin seru, makin Hot dan yang pasti bikin kamu horny guest.


Hanya Di :

Cerita Dewasa Sex SMA || Cerita Dewasa Sex SPG || Cerita Dewasa Sex Mahasiswa || Cerita Dewasa Sex Mahasiswi || Cerita Dewasa Sex Model || Cerita Dewasa Sex Pembantu || Cerita Dewasa Sex Perawan || Cerita Dewasa Sex Salon++ || Cerita Dewasa Sex Suster || Cerita Dewasa Sex Tante Girang || Cerita Dewasa Sex Threesome || Cerita Dewasa Sex Gangbang || Cerita Dewasa Sex ABG || Cerita Dewasa Sex Lesbi || Cerita Dewasa Sex Gay || Foto Hot Mahasiswi Terbaru || Foto Hot Model Terbaru || Foto Hot Tante Terbaru || Cerita Sex Terbaru 2016 || Cerita Dewasa Terbaru 2016 || Cerita Mesum terbaru 2016 || Dan Lain-lain.

0 komentar:

cerita seks

Gairah Tante Ana dan Tante Susi

Ceritaseks69 – Kisah ini tentang Aku, tante Anna dan Temannya Tante Susi Kali ini saya kedatangan Tante saya, Tante Anna dan temannya yang saya panggil dengan Mbak Susi. Mbak Susi adalah orang sunda asli dengan kulitnya yang putih bersih, tinggi 167 cm dengan berat 50 kg sesuai dengan payudara yang saya perkirakan 34A, pasti membikin orang menoleh pada Mbak Susi.




Cerita Sex 2018 Umur Mbak Susi sekitar 36 tahun, 3 tahun lebih tua dari saya, makanya saya panggil dengan Mbak. Tante Anna orangnya supel dengan tinggi 171 cm, berat 53 kg dan berkulit kuning langsat dengan payudara yang kencang karena rajin fitnes, ukuran 34B. Cantiknya seperti artis Hongkong Rosamund Kwan kira-kira dan Mbak Susi seperti artis Venna Melinda. Mereka berdua ke Lombok dalam rangka tugas perusahaan selama lima hari.


“Ndi, nanti anterin Mbak Susi ya” kata Tante Anna sambil membereskan pakaian dalamnya.
“Kemana Tante?” jawab saya sekenanya, sambil jelalatan melihat BH merah punya Tante Anna, sungguh pemandangan yang
indah, BH-nya segini ukurannya apalagi isinya.. He.. He..
“Mbak mau ke mall sebentar beli pulsa nich!” Mbak Susi menjawab mengandeng tangan saya akrab.
“Beres boss..”

Kemudian saya dan Mbak Anna ke mall, di dalam taksi saya perhatikan Mbak Anna sungguh seksi dengan hem atasan berwarna
putih ketat memperlihatkan payudaranya yang membusung dan rok mini diatas lutut berwarna biru, hingga lekuk-lekuk celana
dalamnya samar-samar tercetak serta wangi parfumnya yang segar. Sungguh membuat saya pengin ******* aja. Tapi itu
harapan saja coy.
“Ramai juga mallnya ya!”
“Iya.. Eh.. Mbak.. Sini” lalu saya menarik tangannya, sungguh halus dan lembut.
“Counter handphone di sana toh”
Karena ramai maka saya Mbak Susi mepet di depan saya hingga pantatnya yang terbungkus rok menempel di depan ****** saya.
Wah ini kesempatan nich pikir saya dalam hati, saya tempelkan ****** saya yang sudah tegak kepantatnya Mbak Susi, untuk
tadi saya pakai celana panjang kain. Sensasinya begitu nikmat, apalagi dimasukin nich. Asoy geboy mak. Selesai acara
mepet-mepetan tad karena udah sampai dan bla, bla, bla tanpa kejadian yang hot.

Di malam ketiga, saya, Tante Anna dan Mbak Susi ngobrol sampe malam, kira-kira jam 21.00.
“Ndi Mbak Susi tidur duluan ya”
“Iya Mbak.. Mimpi yang indah ya Mbak!”
Lalu menyusul Tante Anna yang malam itu memakai longdress yang belahannya seolah-olah tak muat untuk payudara yang putih
bersih itu. Malam itu Tante Anna tidur sekamar dengan Mbak Susi di kamar tamu. Tinggal saya yang memencet-mencet tombol
remote TV karena acaranya tak begitu bagus. Kira-kira jam 23.00 saya mendengar jeritan kecil, karena penasaran saya datangi sumber suara itu dan arahnya ternyata dari kamar tamu.
Saya jadi penasaran nich, kebiasaan ngintip kambuh lagi nich pembaca, kamar tamu itu cuma dibatasi kaca nako yang kebetulan kordennya setengah tertutup. Wah asyik nich, yang saya lihat sungguh mengagetkan dan mengasyikkan.

Tante Anna sedang menggerayangi Mbak Susi, tangan Tante Anna sedang meremas-remas payudara Mbak Susi yang sudah terbuka setengahnya
dan baju atas piyamanya sudah tidak beraturan lagi, menampakkan payudara dan BH hijaunya. Mmh sedap.

“Rat.. Jangan.. Apa yang kamu lakukan” Mbak Susi berusaha menahan tangan payudaranya.
“Sus.. Tolong saya Sus.. Mmh..” rintih Tante Anna sambil mencium leher kemudian bibir Mbak Susi dengan liar sambil
menarik BH hijau Mbak Susi hingga terpampanglah dua gunung putihnya.
“Jang.. an.. Saya.. Masih suka sama pria Rat..” terengah-engah Mbak Susi menjawab karena Tante dengan giat mencium dan
mengulum mulut, kemudian ke bawah puting Mbak Susi yang sudah kencang itu digigit dan dikulum Tante Anna dengan gemas
sambil tangan mengusap-ngusap celana dalam Mbak Susi yang berwarna putih itu.
“Pe.. Lan.. Ada Andi tuch”
“Udah diam aja kamu Sus!” bentak Tante Anna pelan, sambil membuka longdressnya yang ternyata tidak memakai BH dan celana
dalam.
“Ssh.. Geli.. Anna.. Ssh..” rintih Mbak Susi yang kelihatan sudah mulai terangsang.
Tante Anna mulai menciumi perut dan vagina Mbak Susi yang terbungkus celana dalam putih, beberapa menit kemudian
terbukalah celana dalam Mbak Susi dan Tante Anna mengambil posisi 69, saling menjilat vagina masing sambil jari tangan
Tante Anna tak henti keluar masuk vagina Mbak Susi yang sudah mulai basah.
“Ce.. Pat.. Sus.. Saya mau keluar!”
“I.. Ya.. Rat.. Samaan.. Ke.. Luarnya ya” jawab Mbak Susi sambil mempercepat jarinya begitu juga Tante Anna.
Kedua wanita itu saling mempercepat kegiatan masing-masing dan akhirnya mereka orgasme. Kemudian mereka tidur bugil
sambil berpelukan. Ah.. Ternyata ****** saya dari tadi juga sudah keluar nich, biasa ngocok sendiri.
*****


Keesokan paginya..
“Pagi Tante.. Pagi Mbak Susi” salam saya pada kedua wanita tersebut.
“Pagi” jawab mereka bersamaan.
“Enak ya mimpinya” sindir saya sambil melihat Mbak Susi yang tersipu malu.
“Mmh.. Lumayanlah” Mbak Susi menjawab sambil melihat Tante saya.
“Ooh ya, nanti anterin Mbak Susi ke pantai sengigi ya ndi”
“Beres Tante, pokoknya puas dech”
Kemudian Tante Anna pergi meeting lagi dan saya kebagian tugas nganterin Mbak Susi, ini kesempatan namanya, kapan lagi
******* sama orang cantik kayak artis lagi. Sore itu jan 15.10 saya anter Mbak Susi memakai mobil sewaan ke Senggigi.
“Mbak, tadi malam ngapain aja di kamar sama Tante!”
“Eh.. Ya tidur dong Ndi” jawab Mbak Susi agak sedikit grogi.
“Mbak Susi ******* ya sama Tante”
“Hus.. Ngawur kamu Ndi” Mbak Susi mencubit saya sambil melotot.
“Lho.. Wong Andi lihat kok, kalo nggak ngaku tak bilangin orang sekantornya Mbak Susi lho”
“I.. Ya.. Iya.. Mbak Susi ngaku dech, tapi jangan bilangin siapa-siapa ya”
Mobil kuparkir di tempat yang agak sepi dan jam sudah menunjukkan jam 18.20 malam.
“Boleh tapi ada syaratnya!”
“Kok pakai syarat.. Minta uang nich!” kata Mbak Susi akan membuka dompet.
“Duit sich mau.. Tapi bukan itu, Andi pengin ******* ama Mbak Susi”
“Apa.. Gila.. Kamu..”
“Kubilangin lho..”
“Iya.. Dech.. Tapi bagian atas aja ya” jawab Mbak Susi pasrah sambil pindah dan bersandar pada bangku belakang.

Saya mengikutinya dan sore itu Mbak Susi memakai kaos kuning ketat dan celana jins.
“Lho.. Kok.. Dilihat aja, nggak mau ya!” goda Mbak Susi.
“Mmh.. Pe.. Lan.. Ndi..” terengah-engah Mbak Susi saat saya cium dan kami saling melumat.
Tangan saya meremas payudara sebelah kanan yang masih terbungkus kaos kuningnya. Beberapa menit kami berciuman dan
kemudian saya arahkan ke leher untuk membuat cupang merah. Tangan saya sudah menyelusup ke dalam kaos dan BH putihnya
sambil memelintir putingnya.
“Ssh.. Mmh.. Aah..” rintih Mbak Susi sambil tangannya masuk ke dalam celana jins saya dan meremas-remas ****** saya yang
sudah tegak dari tadi.
Saya buka celana jins saya dan membiarkan Mbak Susi dengan leluasa meremas-remas ****** saya. Kemudian saya buka pengait
BH-nya dan muncullah dua bukit kembarnya yang tegak menantang, tanpa menunggu lagi saya lahap dan jilat sampai Mbak Susi
merintih-rintih keenakan.

“Terr.. Us.. Ndi.. Pin.. Dah sebelah lagi”
Beberapa menit kami saling meremas dan menjilat, saya kemudian melepas celana jins dan CD putih Mbak Susi, wah
betul-betul vagina yang sempurna, tanpa pikir panjang saya cium dan jilat vaginanya yang sudah basah oleh cairan kental
putih itu, sambil menjilat saya masukkan jari tangan agar Mbak Susi bertambah merintih tidak karuan.
“Sst.. Ce.. Pat.. Ndi.. Masukin.. Mbak udah nggak tahan nich”
“Ben.. Tar.. Mbak.. pakai kondom dulu” kata saya sambil membuka celana saya seluruhnya dan memakai kondom, kemudian
dengan dituntun tangan Mbak Susi yang halus akhirnya bles.. Mmh masuk semua dech ****** saya yang katanya bengkok itu.


“Terr.. Us.. Dor.. Ong.. Teruss.. Sst”
“Cep.. Epet.. Ya.. Gitu.. Ahh..” Celoteh dan rintihan Mbak Susi akibat sodokan demi sodokan yang masukkan dalam-dalam,
mmh nikmat rasanya dan akhirnya kami sama-sama nggak kuat, sambil berpelukan dengan erat.. Crot.. Crot.. Keluarlah lahar
putih itu bersamaan.

“Terima kasih ya Mbak Susi”
“Sama-sama ndi, kapan-kapan lagi ya” jawab Mbak Susi tersenyum puas.
Dan kami pun pulang, disambut Tante Anna tanpa curiga. Aduh Tante saya yang satu ini cantik sekali, kapan ya saya bisa
******* sama dia, abis cantik sich en’ seksi. Kesempatan itu datang malam ini..
“Gimana Sus tadi”
“Puas dech dianterin si Andi”
“Siapa dulu dong Tantenya”
“Rat, tidur duluan ya”
“Iya sus, saya juga mau tidur”
“Ndi terima kasih ya udah nganterin Mbak Susi tadi”
“Biasa aja kok Mbak, yang penting puas khan?” jawab saya mengedipkan mata pada Mbak Susi.
“Ndi, Tante tidur di kamarmu ya”
“Kenapa Tante, apa kamar tamunya ndak cukup berdua ama Mbak Susi?”
“Bukan begitu, di kamar tamu tuch panas, kali aja di kamarmu lebih adem”
“Terserah Tante dech” jawab saya sekenanya.
“Tante duluan tidur ya Ndi”
“Iya Tante, Andi lagi nungguin acara bagus nich”


Tante Anna lalu pergi tidur dengan daster kuningnya yang kependekan itu. Satu setengah jam kemudian saya menyusul ke
kamar untuk pergi tidur juga dan wow.. Tante Anna tidur dengan memeluk guling, tapi yang membuat ****** saya tegak
adalah daster kuningnya menyingkapkan paha kanannya yang putih bersih serta sedikit memperlihatkan CD-nya yang berwarna
putih itu.. Mmh sungguh pemandangan yang indah pembaca.
Saya dengan perlahan membuka pakaian dan celana pendek, tinggal CD saja, ini baru kesempatan namanya. Saya tidur dengan
posisi membelakangi Tante Anna dan dengan perlahan membuka daster bawahnya sampai sebatas pinggang dan sekarang dengan
jelas kelihatan CD-nya berwarna putih selaras dengan pantatnya yang putih, pelan sekali saya tempelkan ****** saya ke
pantat Tante Anna dan serr.. Rasanya halus dan wangi tubuhnya pun harum. Mmh enak sekali, sambil tangan kanan saya
linkarkan ke perutnya. Tidak ada reaksi sama sekali tapi tiba-tiba saja tangannya memegang tangan saya sambil bergumam..
“Mm..”
Saya sampai kaget, tapi cuma sesaat dan kaki kanan saya masukkan di antara kaki Tante Anna. Beberapa saat dalam kondisi
tersebu, perlahan saya lanjutkan dengan tangan kanan saya yang tadinya di perut sekarang merayap perlahan ke arah dalam
daster dan ternyata Tante Anna tidur tidak memakai BH. Payudaranya akhirnya tersentuh juga dan saya usap dengan perlahan
sekali takut Tante Anna bangun. Khan malu sekali jadinya, tapi sudah kadung nafsu, saya terusin aja, paling dimarahin.

****** kugesek-gesekkan seiring intensitas tangan saya yang sekarang bukan saja mengusap tapi meremas-remas. Lagi
asyik-asyiknya melakukan kegiatan mepet-mepetan, tiba-tiba Tante Anna tersadar juga.
“Oh.. Siapa ini..” ujarnya sambil mengibaskan tangan saya.
“Sst.. Andi.. Tante..” guman saya, antara takut dan bingung.
“Maaf.. Tante.. Andi.. Khilaf” kata saya akan beranjak keluar.
“Tunggu Ndi” tahan Tante Anna.
“Sebetulnya Tante nggak marah kok, cuma kaget aja, tak kirain siapa”
“Sekali lagi maaf Tante, tapi jangan laporan ibu ya”
“Kamu nakal ya, cuma ada syaratnya lho supaya nggak dilaporin”
“Apa Tante, pokoknya tak lunasin dech” jawab saya bingung dan takut.
“Kamu kunci kamar ini dan temenin Tante tidur malam terakhir ini, gimana?”
Wah bukan main senangnya saya dan cepat-cepat saya kunci pintu dan wow Tante Anna sudah membuka daster, tinggal CD
putihnya saja.

“Lho, kok bengong sini bobo”
“I.. Ya..”
Antara kagum dan nafsu jadi satu dech, melihat pemandangan yang bagus ini. Dan Tante Anna menarik CD saya hingga lepas.
“Wah.. Kontolmu bengkok ya” puji Tante Anna sambil menindih saya.
Lalu kami pun berciuman dengan lembut dan makin lama ciuman itu berubah menjadi saling jilat. Tangan saya bergerilya
meremas-remas kedua payudaranya dan Tante Annapun meremas dan menarik-narik ****** saya.
“Ndi.. Emut.. Su.. Su Tante.. Ya” tersengal-sengal Tante Anna mengarahkan kepala saya pada payudaranya.
Payudaranya yang putih saya emut, jilat dan gigit dengan perlahan sampai Tante Anna merintih-rintih, sementara tangan
kanan saya ikut masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap vagina Tante Anna yang mulai basah.
“Terr.. Us.. Ndi.. Yang.. Baw.. Ah”
Saya teruskan, celana dalam putih itu saya tarik dan tampaklah vagina yang ditumbuhi bulu halus muncul, saya jilat,
cairan putih semakin banyak, slrup.. Slrup.. Slrup begitu bunyinya saya hisap sampai kepala saya terjepit kaki Tante
Anna yang udah mulai orgasme pertama.
“Ndi.. Ganti.. Po.. Sisi ya?” tanya Tante tersengal-sengal sambil mengarahkan mulutnya ke ****** saya hingga posisi kami
bergaya 69.
Tante Anna betul-betul mahir mengulum dan menghisap sampai-sampai ****** saya gerakkan perlahan ke atas ke bawah seiring
kulumannya dan saya pun tak kalah gesit menjilat dan menghisap cairan putih yang semakin banyak dari Tante Anna.

“Gan.. Tian.. Tante di atas”
Lalu kami pun berubah posisi dengan saya di bawah dan Tante Anna di atas, sambil sedikit berjongkok Tante Anna
membimbing ****** saya masuk vaginanya dan bless.. Cleep.. Cleep.. Cleep.. Begitu bunyinya akibat goyangan pantatnya
yang semok dan sodokan ****** saya sampai-sampai buah zakar saya mepet dengan vaginanya.
“Sst.. Terr.. Ss.. Pegang.. Su.. Su.. Tante.. Ndi.. Sst”
“I.. Ya.. Tante.. Mmh..”
“Nnach.. Gitu.. Rem.. As.. Yaa..” Rintih Tante Anna karena kedua payudaranya saya remas dan kedua putingnya saya
pelintir-pelintir.
Keringat Tante Anna sudah mulai menetes bersamaan dengan keringat saya, sudah 15 menit kami melakukan sodokan dan
goyangan yang hebat sampai ranjang itu berderit-derit menahan goyangan kami yang begitu liar seperti pengantin baru.

“Tan.. Andi.. Mau.. Kel.. Uar.. Nich”
“Ben.. Tar.. Ndi.. Sst.. Sst.. Samaan.. Kelua.. Rrnya ya” perintah Tante pada saya yang sudah mau bobol saja rasanya dan
kami pun mempercepat sodokan dan goyangan.. Cleep.. Cleep.. Cleep.. Dan akhirnya..
“Sst.. Ce.. Pat.. Ndi.. Aakh..” Tante Anna memeluk saya sambil menggoyang-goyang pantatnya semakin cepat, jeritaannya bersamaan dengan semprotan saya dan Tante, croot, croot muncratlah air mani itu dalam vagina Tante.

Tante Anna memeluk saya lemas dan kami pun berpelukan dalam keadaan bugil menikmati sensasi tersebut, saya dan Tante Anna bergumul sampai 3 kali malam itu. 
“Terima kasih ya ndi, udah lama Tante nggak ******* kayak begini”
“Sama-sama Tante, Andi juga puas kok, kapan-kapan kalo Tante ke sini kita ******* lagi ya”
“Beres, pokoknya ini rahasia kita berdua, OK!” jawab Tante Anna sambil mencium saya dengan lembut dan memberikan saya
amplop.
“Apaan ini Tante”
“Oh, uang jajan dari Tante dan Susi buat kamu”
“Terima kasih banyak lho Tante” jawab saya senang, sudah dapat ******* en’ dapet uang lagi yang besarnya kira-kira
Rp,-3.400.000,-. Lumayan lho pembaca untuk tour guide seperti saya yang nganterin Tante saya yang biseks bersama
temannya selama lima hari.
Selamat jalan Tante Anna dan Mbak Susi, semoga selamat dalam perjalanan pulang dan salam sayang dari keponakan dan
sahabatmu, Andi.

Buat pembaca wanita yang ingin jalan-jalan ke pulau Lombok dengan pantai Senggigi yang berpasir putih dan ada di lombok bisa melihat Budaya Bali dan Lombok. Yang berminat bisa menghubungi saya via email, nanti saya antar ke mana saja, pokoknya ditanggung senang dech. Saya biasanya mengakses internet membaca email hari Senin ? Rabu. Ini pengalaman asli
Demikian cerita sex ini, selalu ikuti cerita-cerita sex yang lainya ya guest, tentunya bakal makin seru, makin Hot dan yang pasti bikin kamu horny guest.

Hanya Di :

Cerita Dewasa Sex SMA || Cerita Dewasa Sex SPG || Cerita Dewasa Sex Mahasiswa || Cerita Dewasa Sex Mahasiswi || Cerita Dewasa Sex Model || Cerita Dewasa Sex Pembantu || Cerita Dewasa Sex Perawan || Cerita Dewasa Sex Salon++ || Cerita Dewasa Sex Suster || Cerita Dewasa Sex Tante Girang || Cerita Dewasa Sex Threesome || Cerita Dewasa Sex Gangbang || Cerita Dewasa Sex ABG || Cerita Dewasa Sex Lesbi || Cerita Dewasa Sex Gay || Foto Hot Mahasiswi Terbaru || Foto Hot Model Terbaru || Foto Hot Tante Terbaru || Cerita Sex Terbaru 2016 || Cerita Dewasa Terbaru 2016 || Cerita Mesum terbaru 2016 || Dan Lain-lain.


0 komentar: